The Critical Point of Faith
(Titik Kritis dari Iman – Kisah Saul)
Hatinya mulai gundah. “Dia sudah
janji mau datang, tapi apa nyatanya? Sudah enam hari aku sabar menunggu, dalam
keadaan terjepit, hampir semua orang ketakutan dan mulai lari meninggalkan aku.
Dia tidak datang! Mungkin dia lupa, atau takut, atau tidak peduli. Ini tidak
bisa dibiarkan. Aku harus bertindak. Aku tidak bisa diam saja. Aku bisa lakukan
sendiri…”. Maka mulailah Saul mengambil korban bakaran dan membakarnya,
lalu meminta Tuhan menolongnya.
Itulah sebagian kisah yang kita lihat ketika Saul dan bangsa Israel
terdesak oleh pasukan Filistin (1 Sam 13:1-14). Ya, keadaannya memang genting.
Filistin telah bersiap untuk menyerang. Rakyat ketakutan dan terserak-serak.
Dan nabi Samuel berkata bahwa dia akan datang untuk mempersembahkan korban dan
meminta petunjuk Tuhan dalam waktu tujuh hari (ay. 8). Namun sudah enam hari
Samuel tidak datang. Yang ditunggu tidak muncul. Keadaan semakin kritis karena
pertolongan tidak segera datang. Maka kisah di atas terjadi. Akhirnya, dalam
ketidakpercayaan kepada janji Samuel, Saul membakar korban bakaran yang menurut
peraturan hukum Taurat tidak boleh dilakukan oleh seorang raja, hanya imam saja
yang boleh melakukannya. Karena perbuatan itu, Saul dianggap berdosa di hadapan
Tuhan dan Tuhan menolak Saul (ay.13). Inilah yang saya sebut “the critical
point of faith”, titik kritis dari iman.


