Selasa, 07 Oktober 2014

Mengejar Hadirat Tuhan dan Perkenanan-Nya



OBET-EDOM
Mengejar Hadirat Tuhan & Perkenan-Nya

Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
(2 Sam 6:11-12)
Tabut TUHAN bagi orang Israel adalah representasi kehadiran dan perkenanan Tuhan. Suatu kali tabut itu dirampas oleh orang Filistin. Tetapi karena Tuhan murka maka Tuhan menghukum mereka. Alhasil, tabut itu dikembalikan ke Israel. Raja Daud menghendaki agar tabut itu dibawa kembali ke Yerusalem, dekat istananya. Sayangnya, cara mereka membawa tabut itu salah, tidak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Maka Uza mati ketika hendak mengulurkan tangannya memegang tabut yang hampir jatuh tergelincir itu. Kisah lengkapnya dapat dibaca di 2 Samuel 6:1-12.

Nah, dalam situasi yang demikian itu akhirnya Daud mengambil keputusan untuk tidak membawa tabut Tuhan ke Yerusalem, tetapi ditaruhnya di rumah Obed-Edom. Dan ternyata Tuhan memberkati Obed-Edom dan keluarganya karena tabut itu. Setelah Daud mendengar bahwa Tuhan memberkati Obed-Edom, Daud kembali membawa tabut itu ke Yerusalem dengan cara yang benar. Apa yang terjadi dalam kehidupan Obed-Edom dan sikap yang ditunjukkannya adalah teladan bagi kehidupan kita sekarang ini. Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kita pelajari:
Pertama, kita perlu menghormati Tuhan dan hadiratNya. Obed-Edom adalah gambaran hidup kita. Dia mendapat anugerah ketika tabut itu ditaruh di rumahnya. Dan dia diberkati. Kita juga mendapat anugerah dari Tuhan, yaitu keselamatan. Itu bukan usaha kita. Bahkan bila kita mengusahakannya pun kita tidak akan bisa. Kehadiran Tuhan dalam hidup Obed-Edom saat tabut itu di rumahnya adalah gambaran bahwa kita juga diberkati bila kita menyediakan diri dan mempersilahkan Tuhan hadir dan menguasai hidup kita.
Ijinkan Tuhan memimpin hidup kita. biarkan ‘tabut’Nya tinggal dalam rumah kita. Bila kita terapkan dalam kehidupan sekarang, berarti kita perlu membangun persekutuan dengan Tuhan lebih erat lagi. Berusahalah untuk mengerti kehendak Tuhan melalui firmanNya, melalui doa pribadi, dan ibadah bersama. Lihatlah situasi dan keadaan di sekitar kita sebagai cara Tuhan berbicara dan mengarahkan kita. Pelajari firmanNya. Tunduklah pada kebenaranNya. Maka kita akan mengalami berkat anugerahNya.
Kedua, naikkan level atau tingkat dedikasi dan penyembahan kita. Akhirnya, setelahmendengar Obed-Edom diberkati karena tabut itu, Daud mengambil tabut itu dan dibawa ke Yerusalem. Lalu apa yang terjadi di keluarga Obed-Edom? Apakah dia melanjutkan aktivitas normal kesehariannya tanpa tabut itu lagi? Artinya tanpa representasi kehadiran Tuhan? Ah, betapa malang nasibnya jika demikian! Banyak kisah di Alkitab mengenai orang-orang yang kehilangan penyertaan Tuhan. Sebut saja Saul dan Simson. Juga bangsa Israel sampai akhirnya masuk ke pembuangan. Betapa tragis hidup tanpa ‘tabut Tuhan’.
Tapi tunggu! Obed-Edom bukan orang yang demikian. Dalam catatan 1 Tawarikh 15:18, kita bertemu dengan Obed-Edom di pintu gerbang tempat tabut itu berada, di Yerusalem. “… dan bersama-sama mereka itu saudara-saudara mereka dari tingkat kedua: Zakharia, Yaaziel, Semiramot, Yehiel, Uni, Eliab, Benaya, Maaseya, Matica, Elifele, Mikneya, dan Obed-Edom serta Yeiel, para penunggu pintu gerbang.” Lalu beberapa waktu kemudian, dalam ayat ke-24, “dan Sebanya, Yosafat, Netaneel, Amasai, Zakharia, Benaya dan Eliezer, yakni imam-imam itu, meniup nafiri di hadapan tabut Allah, sedang Obed-Edom dan Yehia adalah penunggu pintu pada tabut itu.”
Ternyata Obed-Edom tidak berhenti di Gad, di rumahnya. Ia ‘mengejar’ tabut itu. Seakan ia berkata, “Aku tahu hidupku diberkati karena tabut itu. Aku tidak mau jauh dari tabut itu. Kalau tabut itu di Yerusalem, aku kesana. Aku harus tetap dekat tabut itu.” Saya tidak tahu caranya, tapi yang pasti akhirnya ia menjadi penunggu pintu gerbang, bahkan akhirnya penunggu pintu kepada tabut itu.
Inilah progress, perkembangan. Setiap orang tidak boleh hanya berhenti pada kenyataan bahwa kita telah ditebus dan dijamin masuk sorga. Memang kita dijamin karena pengampunan dan pengorbanan Tuhan Yesus. Tetapi kita tidak boleh berhenti hanya disitu. Kekristenan itu adalah relasi, hubungan dengan Bapa. Ini menyangkut penyembahan dan dedikasi hidup kita. Jangan berhenti hanya menjadi Kristen. Teruslah maju. Inginkan perkara-perkara dari Tuhan. Tingkatkan pengertian kita akan kehendak Tuhan dan firmanNya. Apa yang diinginiNya. Apa isi hati Tuhan.
Prinsip ini juga berlaku untuk setiap bidang kehidupan kita, bukan hanya yang menyangkut hal rohani. Ya, kita perlu meningkatkan kapasitas kehidupan kita. Kemampuan, skill/ketrampilan, ekonomi, hubungan dengan keluarga dan sesama. Bahkan bisnis pun memakai prinsip ini. Kita harus berkembang dalams emua sapek kehidupan. Dan diperlukan kesediaan untuk berusaha meningkatkan kemampuan kita. jangan menyerah dengan keadaan. Maju terus dan terobos penghalang, karena Tuhan menghargai setiap jerih payah kita.
Ketiga, ada warisan rohani yang dapat kita turunkan kepada anak-cucu kita. Banyak orang berpikir bahwa apa yang mereka kerjakan dalam hal rohani tidak berdampak pada kehidupan mereka dan anak-cucu mereka. Padahal sebaliknyalah yang terjadi. Apapun yang kita lakukan hari-hari ini, berdampak sangat besar bagi kehidupan kita dan keturunan kita. Dan itulah yang dialami oleh Obed-Edom.
Mari telusuri 1 Tawarikh 26:4-8 dan 2 Tawarikh 25:24. Kita mendapati daftar anak-cucu Obed Edom disana. Siapa mereka? “… Mereka memegang pemerintahan di antara puak mereka, sebab mereka itu adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa cakap untuk pekerjaan itu, …  segala emas dan perak dan segala perkakas yang terdapat dalam rumah Allah dan yang berada di bawah pengawasan keluarga Obed-Edom…”
Data ini menunjukkan bahwa Obed-Edom dan anak-cucunya diberi tanggung jawab dan kepercayaan yang besar oleh Tuhan. Mereka duduk di pemerintahan. Mereka adalah para pahlawan. Mereka cakap bekerja. Bahkan emas dan perak dalam rumah Allah berada dalam pengawasan mereka. Mereka DAPAT DIANDALKAN!
Bagaimana bisa seperti itu? Karena keteladanan sang kepala keluarga, Obed-Edom. Keteladanan dalam pengejaran akan Tuhan dan perkenananNya. Hari ini, seberapa kita rindu mengalami berkat dan perkenanan Tuhan? Kejar lagi Dia. Jangan biarkan kita menjauh. Jangan berhenti. Sebab ada upah yang menanti.
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar