Selasa, 07 Oktober 2014

Titik Kritis dari Iman



The Critical Point of Faith
(Titik Kritis dari Iman – Kisah Saul)

Hatinya mulai gundah. “Dia sudah janji mau datang, tapi apa nyatanya? Sudah enam hari aku sabar menunggu, dalam keadaan terjepit, hampir semua orang ketakutan dan mulai lari meninggalkan aku. Dia tidak datang! Mungkin dia lupa, atau takut, atau tidak peduli. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bertindak. Aku tidak bisa diam saja. Aku bisa lakukan sendiri…”. Maka mulailah Saul mengambil korban bakaran dan membakarnya, lalu meminta Tuhan menolongnya.
Itulah sebagian kisah yang kita lihat ketika Saul dan bangsa Israel terdesak oleh pasukan Filistin (1 Sam 13:1-14). Ya, keadaannya memang genting. Filistin telah bersiap untuk menyerang. Rakyat ketakutan dan terserak-serak. Dan nabi Samuel berkata bahwa dia akan datang untuk mempersembahkan korban dan meminta petunjuk Tuhan dalam waktu tujuh hari (ay. 8). Namun sudah enam hari Samuel tidak datang. Yang ditunggu tidak muncul. Keadaan semakin kritis karena pertolongan tidak segera datang. Maka kisah di atas terjadi. Akhirnya, dalam ketidakpercayaan kepada janji Samuel, Saul membakar korban bakaran yang menurut peraturan hukum Taurat tidak boleh dilakukan oleh seorang raja, hanya imam saja yang boleh melakukannya. Karena perbuatan itu, Saul dianggap berdosa di hadapan Tuhan dan Tuhan menolak Saul (ay.13). Inilah yang saya sebut “the critical point of faith”, titik kritis dari iman.

Setiap orang menghadapi titik kritis dari iman. Pada situasi ini, pergumulan yang muncul biasanya sangat menekan: Apakah Tuhan pasti menolong? Bagaimana jika tidak? Apakah Tuhan tepat waktu dalam menolong saya? Bila kita sampai pada titik kritis dari iman ini, maka keputusan kita menjadi sangat penting. Keputusan kita pada saat-saat seperti itu akan menentukan kualitas iman kita dan perkenanan Tuhan atas hidup kita.
Dalam kisah di atas, Saul diperhadapkan kepada situasi yang menegangkan. Kalau dia menunggu Samuel, apakah benar Samuel akan datang? Ini sudah hari ketujuh dan belum ada tanda-tanda kedatangannya. Bagaimana jika ia menunggu dan ternyata Samuel tidak datang? Bukankah ia dan bangsa Israel akan kalah dalam peperangan? Saul menghadapi titik kritis dari iman: terjepit (ay 6), terdesak, nekat (ay 7), gemetar, takut (ay 7). Saul memang telah berusaha untuk percaya (menunggu selama 6 sampai 6½ hari). Sayang dia tidak berani beriman sampai hari ketujuh berakhir. Maka keputusan rasionalnya adalah ia mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan dan memohon pertolonganNya, sekalipun Saul tahu bahwa keputusannya itu salah di hadapan Tuhan.
Kita juga sering mengalami hal yang demikian, bukan? Menunggu waktu Tuhan untuk menolong kita rasanya begitu lama dan sering sepertinya terlambat. Maka kita sering mengambil keputusan dan langkah sendiri, tanpa mengikuti kehendak Tuhan. Sebenarnya dalam situasi yang demikian, penting sekali untuk menyadari bahwa inilah waktunya untuk menguatkan hati, memperbesar iman, dan mempersiapkan diri menerima mujizat dari Tuhan.
Dalam hal ini kita harus memahami bahwa iman adalah ‘trust because of understanding’ (kepercayaan yang penuh karena pemahaman yang benar dan pengertian akan kehendak dan hati Tuhan). Ini berarti kita perlu memahami firman Tuhan sehingga kita mengerti kehendak-Nya. Roma 10:17 berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Dengan memahami firman Tuhan kita akan memiliki tiga hal berikut ini:

  • Kita percaya bahwa Tuhan itu baik dan mengerjakan yang terbaik bagi kita, tahu keadaan kita dan peduli pada kehidupan dan masalah kita.
  • Kita bertindak berdasarkan kebenaran firman dan perkenanan Tuhan
  • Kita berserah kepada Tuhan, apapun hasil dari iman tersebut.

Ada beberapa contoh dari Alkitab sehubungan dengan titik kritis dari iman dan bagaimana mereka bersikap terhadap situasi tersebut:

  • Abraham dan Sara, tidak sabar menunggu janji Tuhan dan akhirnya mengambil keputusan untuk mengambil Hagar (Kej 16:1-3). Bahkan Sara sudah tidak mungkin memiliki anak kandung karena ia sudah tua dan menopause (Kej 18:10-11).
  • Musa dan bangsa Israel di tepi laut Teberau, di depan laut, di belakang tentara Firaun (Kel 14:9-14).
  • Wanita Siro Fenesia (Kanaan) yang kelihatannya tidak akan ditolong oleh Tuhan (Mat 15:21-28; Mrk 7:24-30)
  • Janda Sarfat yang tinggal memiliki tepung segenggam dan minyak sedikit, menghadapi titik kritis dari iman ketika nabi Elia minta supaya ia dibuatkan roti bundar kecil terlebih dahulu baru janda dan anaknya selebihnya (1 Raj 17:1-16).

Ketika mereka berada pada titik kritis dari iman, sikap dan keputusan mereka menentukan apakah mereka menunjukkan iman yang berkualitas atau akhirnya mereka mengambil jalan mereka sendiri.
Ketika kita memperbincangkan mengenai iman ini, sesungguhnya kita sampai pada suatu pemahaman bahwa setiap orang mengambil keputusan bagi jalan hidupnya karena dipengaruhi oleh keinginan untuk memperoleh apa yang diharapkan. Setiap orang menginginkan hasil dari iman mereka.
Kitab Ibrani 11:1-40 sebenarnya memberikan dua hasil dari iman. Pertama, mereka mendapatkan apa yang mereka percaya. Dari ayat 1-35a, kita mendapati banyak tokoh-tokoh iman yang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun ada juga hasil iman versi kedua, yaitu mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan (ay 35b-40). Terhadap kelompok yang kedua ini, Alkitab memberi penjelasan yang sangat menggetarkan, “Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.(ay 39-40).
Karena itu, ketika kita mengalami titik kritis dari iman, kita perlu membekali jiwa kita dengan sebuah pondasi yang tak tergoyahkan ini:

  1. Bahwa Tuhan berdaulat dalam hidup kita, apapun yang kita alami.
  2. Bahwa kita tetap percaya kepada Tuhan, termasuk dalam titik kritis dari iman, sehingga kita akan timbul seperti emas yang teruji.
  3. Jika kita memiliki kualitas iman yang kuat, maka kit dapat percaya bahwa kita akan mengalami pertolongan Tuhan. Dan jika kita tidak mengalami pertolongan Tuhan seperti yang kita harapkan, itu berarti Tuhan sedang mempersiapkan yang lebih baik daripada yang kita harapkan. ***


3 komentar:

  1. Borgata Hotel Casino & Spa Map & Reviews - Mapyro
    Borgata Hotel Casino & Spa in 영천 출장안마 Atlantic City offers 나주 출장마사지 guests an array of restaurants, 경상북도 출장마사지 nightlife 오산 출장안마 attractions and shopping. It is located on 400 acres along the Address: 1 Borgata WayLocation: 8.1 Rating: 3.5 · ‎8,903 votes 이천 출장마사지

    BalasHapus
  2. Casino Royale - Live Dealer Games - Virgin Games
    Casino หารายได้เสริม Royale https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ is a live casino https://deccasino.com/review/merit-casino/ with a 토토 large, eclectic portfolio of casino games. Players can play this game with live 출장마사지 dealers,

    BalasHapus